Laporan kegiatan praktikum
Pengambilan dan pembuatan ekstrak
kelenjar hipofisa (Hipofisasi)

Oleh ;
M. Fajriannor
XIA- AGP

Pemerintah kabupaten tabalong
Dinas pendidikan dan kebudayaan
Smkn 1 banua lawas
2012

  • Kata Pengantar

    Alhamdulillah Puji dan Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt, zatYang Maha Indah dengan segala keindahan-Nya, zat yang Maha Pengasih dengansegala kasih sayang-Nya, yang terlepas dari segala sifat lemah semua makhluk-Nya.Alhamdulillah berkat Rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporanini. Shalawat serta salam mahabbah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa risalah Allah terakhir dan penyempurna seluruhrisalah-Nya.

    Akhirnya dengan segala kerendahan hati izinkanlah penulis untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berjasa memberikan motivasi dalam rangka menyelesaikan laporanini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Bapak Bambang Hermanto, S.Pd sebagai Kepala SMK Negeri 1 Banua Lawas yang telah memberikan izin untuk melakukan kegiatan praktikum
    2. Bapak Ir. Kamiransyah Selaku Ketua Jursan Perikanan sekaligus Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan serta arahan kepada kami
    3. Kakak kelas XII a yang sebagian Ikut membantu sekaligus mengarahkan kami juga.

    Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangandan kekeliruan di dalam laporan ini, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan.

    Akhir kata, Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terkait, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini. Semoga kebaikan yang diberikan oleh semua pihak kepada penulis menjadi amal sholeh yang senantiasa mendapat balasan dan kebaikan yang berlipat ganda dari Allah Subhanahuwa Ta’ala. Semoga Laporan ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya penulis dan pembaca pada umumnya. Amin…

    Banua Lawas, 13 Nopember 2012

    Penulis

    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………….. i
    DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………….. ii
    BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………………… 1
    1.1. Latar belakang ……………………………………………………………………. 1
    1.2. Tujuan …………………………………………………………………………………. 1
    BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………………… 2
    2.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio) …………………………………………………… 2
    2.2 Pembenihan ……………………………………………………………………….. 2
    2.3Metode Pembenihan …………………………………………………………….. 3
    BAB III METODE PRAKTIKUM …………………………………………………………………. 4
    3.1 Waktu dan Tempat ……………………………………………………………….. 4
    3.2 Alat dan bahan …………………………………………………………………….. 4
    3.3 Tahapan kegiatan ……………………………………………………………….. 4
    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………………………………………….. 5
    4.1 HASIL ………………………………………………………………………………….. 5
    4.2 PEMBAHASAN ………………………………………………………………………. 5
    BAB V PENUTUP ………………………………………………………………………………….. 8
    5.1 Kesimpulan …………………………………………………………………………. 8
    5.2 Saran ………………………………………………………………………………….. 8
    DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………….. 9

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Pembenihan adalah salah satu bentuk unit pengembangan budidaya ikan. Pembenihan ini merupakan salah satu titik awal untuk memulai budidaya. Ikan yang akan dibudidayakan harus dapat tumbuh danberkembang biak agar kontinuitas produksi budidaya dapat berkelanjutan.Untuk dapat menghasilkan benih yang bermutu dalam jumlah yang memadai dan waktu yang tepat mesti diimbangi dengan pengoptimalan penanganan indukdan larva yang dihasilkan melaluipembenihan yang baik dan berkualitas.
    Pembenihan dengan ikut campur tangan manusia atau fertilisasi buatan sudah dapat dilakukan pada berbagai jenis ikan, khususnya bagi ikan yang penjualannya tinggi di pasaran diantaranya komoditas ikan air tawar seperti lele, nila, gurami dan lain-lain. Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit licin. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air.
    Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan ( Suyanto, 1991). Sehingga pemijahan ikan ini terkendala akan musim, untuk itu pemenuhan akan bibit ikan lele yang bermutu dan sesuaidengan waktu akan sulit terpenuhi. Salah satu cara mengatasi masalah di atas dapat dengan pemijahan buatan pada ikan lele. Pemijahan buatan dapat dengan pemberian hormon.
    Pemberian hormon ini akan membantu fertilisasi ikan tanpa perlu terkendala musim sehingga dapat dipijahkan kapanpun sesuai keinginan.
    Oleh karena itu praktikum tekhnologi pembenihan ikan ini sangat diperlukan untuk menambah wawasan siswa dalam mengetahui teknik-teknik dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembenihan ikan. Mulai dari seksualitas primer dan sekunder ikan, teknik pembuatan ekstraksi kelenjar hipofisa, teknik fertilisasi buatan hingga pada penanganan dan perkembangan telur.
    Hipofisa merupakan suatu kelenjar yang terletak didalam struktur bertulang (selatursika) di dasar otak. Sela tursika berfungsi sebagai pelindung hipofisa dan memberikan ruang yang sangat kecil untuk mengembang. Proses hipofisasi dapat mempercepatkematangan gonad 10 – 12 jam sebelum memijah.
    Kematangan gonad tergantung dariukuran dan bentuk Ikan. Kelenjar hipofisa menghasilkan berbagai hormon di antaranyaadalah GnRH, ACTH, TSH, FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin, Vasopresin, dan Oksitosin(Afrianto,1998). Hormon – hormon tersebut dapat di donorkan dengan cara disuntikkanpada ikan lain sehingga dapat membantu proses pemijahan buatan. Pemijahan buatantersebut mampu merangsang ikan yang telah mendapat donor hipofisa untuk melakukan pemijahan lebih cepat.Praktikum ini dilakukan pengambilan kelenjar hipofisa pada ikan mas (Cyprinuscarpio) diutamakan .
    Untuk dapat mengambil kelenjarhipofisa ikan mas dapat dilakukan dengan pembedahan pada bagian kepala. Hal inidilakukan karena kelenjar hipofisa terletak dibawah organ otak ikan.

    1.2 Tujuan
    Adapun tujuan dari praktikum diharapkan agar praktikan dapat mengambil kelenjar hipofisa yang terdapat di dalam kepala ikan preparat dengan baik dan benar serta mengawetkannya.

    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Ikan Mas(Cyprinus carpio)
    Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang pipih kesamping (comprossed) dengan ukuran dan warna badan sangat beragam. Mulutnya terletak di bagian tengah ujung kepala (terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Dibagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut. Di ujung dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) yang terbentuk atas tiga baris gigi geraham. Induk ikan mas bersifat non-guarders, tetapi pada beberapa spesies jantan biasa membangun sarangdan melindungi telur-telur. Ikan mas dapat ditemukan di lingkungan payau, dan air tawardan air tawar terutama Primer. Dapat hidup pada kisaran suhu 3-35 ° C, toleran terhadap berbagai kondisi, berkembang di sungai keruh besar.
    Ikan mas termasuk omnivora, makan utama berupa serangga air, krustasea, annelida, moluska, tanaman air dan ganggang. Betina yang mencapai panjang 47 cm dapat memproduksi sekitar 300.000 telur(Prihatman, 2000).

    Kingdom : Animalia
    Filum : Chordata
    Classis : Osteichthyes
    Ordo : Cypriniformes
    Familia : Cyprinidae
    Genus : Cyprinus
    Spesies :Cyprinus carpio

    Menurut Prihatman (2000) ikan mas yang mencapai kematangan gonad ditandai dengan ciri-ciri pada betina berumur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2,00 kg/ekor; pada jantan umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 1,50 kg/ekor, bentuk tubuh secara keseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat,dan tutup insang normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih.
    Ikan mas memiliki tipe sisik cykloid (lingkaran). Sirip punggungnya (dorsal) memanjang dengan bagian belakang berjari keras dan di bagian akhir (sirip ketiga dan keempat) bergerigi. Letak sirip punggung berseberangan dengan permukaan sisip perut (ventral). Sirip duburnya (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yaitu berjari kerasdan bagian akhirnya bergerigi. Garis rusuknya (linea lateralis atau gurat sisi) tergolonglengkap, berada di pertengahan tubuh dengan bentuk melintang dari tutup insang sampaike ujung belakang pangkal ekor. Ikan mas (Cyprinus carpi) merupakan ikan pemakan segala (omnivora) yang antara lain memakan serangga kecil, siput, cacing, potongan ikan,dan lain-lain (Prihatman, 2000).
    2.2. Pembuahan (Fertilisasi)
    Reproduksi pada ikan dikontrol oleh kelenjar pituitari yaitu kelenjar hipotalamus,hipofisis gonad, hal tersebut dipengaruhi oleh adanya pengaruh dari lungkungan yaitutemperatur, cahaya, cuaca yang diterima oleh reseptor dan kemudian diteruskan kesistem syaraf kemudian hipotalamus melepaskan hormon gonad yang merangsang kelenjarhipofisa yang mengontrol perkembangan dan kematangan gonad dalam pemijahan.Hormon merupakan suatu senyawa yang diekskresi oleh lelenjar endokrin dimana kelenjarendokrin adalah kelenjar buntu yang tidak memiliki saluran. Dan hormon merupakan salahsatu faktor yang mempengaruhi efektifitas pada ikan. Dosis hormon yang diberikan sangaterat kaitannya dengan efisiensi dan selanjutnya akan mempengaruhi nilai ekonomisnya, jika pemberian hormon dosisnya terlalu rendah maka akan menyebabkan proses sex reversal yang berlangsung kurang sempurna (Zairin , 2002).Fertilisasi atau pembuahan adalah proses bersatunya oosit (telur) dengan spermayang membentuk zigot. Pada proses pembuahan terjadi pencampuran inti sel telur dansperma. Kedua inti mengandung gen (pembawa sifat keturunan) sebanyak satu sel(haploid). Pembuahan (fertilisasi) dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

    a.Fertilisasi eksternal
    Persatuan sperma dengan sel telur terjadi di luar tubuh induk.Contoh: Cyprinidae, Anabantidae, Siluridae, dll. Ikan yang melakukan pembuahan di luar disebut ikan jenisovipar. Ikan jenis ovipar mengeluarkan telur dari dalam tubuhnya untuk dibuahi oleh “si jantan”. Proses pembuahan sel telur ( oosit) oleh sel sperma berlangsung diluar tubuh ikandimana sperma memasuki sel telur melalui sebuah lubang yang disebut dengan mikrofil.Umumnya hanya satu sperma yang dapat masuk ke dalam sebuah sel telur. Oosit yangtelah dibuahi oleh sel sperma disebut zigot (Sumantadinata, 1981)

    b. Fertilisasi internal
    Sel telur bersatu dengan sperma di dalam tubuh induk). Digunakan organ bantu pemijahan, seperti: gonopodium, myxopterygium, dan tenaculum. Contoh: Elasmobranchii, Anablepidae, Poecilidae. Ikan yang melakukan pembuahan di dalam disebut ikan jenisovovivipar. Ikan jenis ini berkembang biak dengan cara melahirkan. Pembuahan terjadi didalam tubuh ikan betina (internal fertilization). Embrio berkembang di dalam tubuh induk betina, kemudian melahirkan anak yang sudah berwujud mirip dengan induknya. Ikan yangberkembangbiak secara ovovivipar adalah ikan dari famili Poecilidae, seperti platy, guppy,dan molly. Kelangsungan hidup anakan memang baik, tetapi jumlah anakan yangdihasilkan setiap kelahiran tidak dapat banyak karena daya dukung induk terbatas (sepertipada halnya manusia) (Sumantadinata, 1981).

    2.3 Metode Pemijahan
    Metode pemijahan adalah suatu metode untuk Metode pemijahan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu sttriping dan hormon.

    2.3.1 Stripping
    Stripping adalah salah satu metode pemijahan dengan cara mengurut perut induk ikan, hal ini dilakukan untuk mengeluarkan telur dan semen (cairan sperma). Strippingdibedakan menjadi dua macam, yaitu:
    a.Kering
    Sel telur hasil stripping dari induk betina dicampur dengan sperma jantan, pencampuran dilakukan dengan bulu ayam/bulu bebek, kemudian dibiarkan selama + 10 menit. Setelah itu dicuci dengan air laut yang telah disaring dan disterilisasi, baru telurdipindahkan ke bak penetasan.
    b.Basah
    Sel telur dan sperma hasil stripping dicampur dalam air laut yang telah disterilisasi dan dibiarkan selama + 10 menit, kemudian dicuci dan dipindahkan ke dalam bak penetasan.(Susanto, 2001)
    2.3.2 Hormon
    Berdasarkan tekniknya, pemijahan ikan dengan hormon dapat dilakukan dengan 3 macam cara yaitu:
    a.Teknik intra muscular (penyuntikan ke dalam otot)Teknik penyuntikan yang dilakukan dengan cara menyuntikan pada bagian ototpunggung atau otot batang ekor.
    b.Teknik intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut)Teknik penyuntikan ke dalam rongga perut, lokasi penyuntikan antara kedua siripperut sebelah depan dan atau antara sirip dada sebelah depan sejajar dengan dinding perut.
    c.Teknik intra cranial (penyuntikan di kepala)Teknik penyuntikan ke dalam rongga otak melalui tulang occipital bagian yangtipis.(Hadjamulia, 1981).Dari ketiga teknik penyuntikkan yang paling umum dan mudah dilakukan adalahteknik intra muscular, karena pada bagian ini tidak merusak organ yang penting bagi ikandalam melakukan proses metabolisme seperti biasanya dan tingkat keberhasilan lebihtinggi dibandingkan dengan lainnya. Penyuntikan secara intra muscular yaitu pada 5sisik ke belakang dan 2 sisik ke bawah bagian sirip punggung ikan (Herlina, 2002).
    Ada dua metode yang biasa dilakukan dalam mengawetkan kelenjar hipofisa, yaitu:
    a.Metode kering
    Metode kering dilakukan dengan menggunakan larutan aseton. Kelenjar hipofisa direndam dalam larutan aseton selama 8-12 Jam, kemudian larutan aseton dibuang dankelenjar hipofisa dikeringkan lalau disimpan (Susanto, 2001).

    b.Metode basah
    Metode basah digunakan dengan larutan alkohol pekat. Kelenjar hipofisa dimasukan dalam larutan alkohol selama 24 jam. Dalam proses perendaman alkohol diganti selama 2-3 kali. Setelah 24 jam kelenjar hipofisa dibiarkan terendam larutan alkohol sampai akan digunakan (Susanto, 2001).
    BAB III
    METODOLOGI
    3.1 Waktu dan tempat
    Pelaksanaan kegiatan praktikum ini dilaksanakan di lab. Basah SMKN 1 Banua lawas Kecamatan banua lawas, Kabupaten Tabalong pada hari Jum’at, 09 Nopember 2012

    3.2 Alat dan bahan
    3.1.1 Alat
    Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum adalah :
    1) Timbangan
    2) Pisau
    3) Telenan
    4) Pinset
    5) Tissue
    6) Alat penggerus
    7) Sentrifugase
    8) Spuit

    3.1.2 Bahan Bahan
    Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah ikan mas (Cyprinus carpio) 1 ekor yaitu ikan pendonor (ikan mas) dan Larutan fisiologis (NaCl 0,9 %).

    3.2 Tahapan Kegiatan
    3.2.1 Pengambilan kelenjar hipofisa.
    1) Ikan Donor ditimbang terlebih dahulu.
    Ikan donor yang dijadikan bahan pada praktikum kali ini adalah seberat 0,5 kg.

    2) Ikan donor dibunuh dengan cara memotong bagian kepalanya.
    3) Kepala yang telah terpotong diletakkan dengan posisi mulut menghadap keatas.
    4) Pemotongan berikutnya yaitu pada bagian di atas mata sedikit ke arah bagian belakang.
    5) Setelah tulang tengkorak terbukamaka akan nampak otak sedangkan kelenjar hipofisa terdapat di bawah otak dan berwarnaputih berbentuk butiran kecil.
    6) Otak diangkat, tempatnya dibersihkan dengan tissue agar bersih dari darah dan lemak.
    7) Kemudian kelenjar hipofisa tersebut diambil secara hati hati dengan pinset.Kelenjar hipofisa jangan sampai pecah

    3.2.2. Menyiapkan ekstrak hipofisa
    1) Kelenjar hipofisa diambil dengan hati hati dengan pinset dan diletakkan di tepi alat penggerus.
    2) Kemudian kelenjar hipofisa digerus dengan cara memutar-mutar alat penggerus ke lubang dasar gelas penggerus.
    3) Kemudian ditambahkan aquabidest/NaCl 1,5 ml.
    4) Ekstrak diambil dngan jarum suntik.
    5) Ekstrak dimasukkan kedalam gelas tabung.
    6) Gelas tabung disentrifuse selama 2-5 menit.
    7) Diamkan sebentar agar terbentuk dua lapisan (cairan bening dan endapan). Cairan yang bening dimabil dengan spet, cairan inilah yang akan digunakanuntuk menyuntik induk ikan mas. Penyuntikan dilakukan di bawah sirip dorsal bagian depan

    BAB IV
    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 HASIL
    Dari kegiatan Praktikum yang dilakukan di dapatkan hasil yaitu:

    No Parameter Hasil
    1 Berat Ikan Donor 0,5 kg.
    2 Pengambilan kelanjar Hipofisa
    Berhasil mengambil kelenjar hipofisa.
    3 Pembuatan ekstrak hipofisa
    Pembuatan ekstrak hipofisa dilakukan sesuai prosedur.

    4.2 PEMBAHASAN
    Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara hipofisasi. Hipofisa adalah suatu kelenjar endokrin yang terletak dalam sella tursika, yaitu lekukan dalam tulang stenoid. Menurut Hoar (1957), hipofisa terdiri dari dua kelenjar hipofisa yaitu neuron dan adenohypofisa yang merupakan bagian terbesar dari kelenjar danmemiliki tiga ruangan yaitu proximal pars distalis, rostal pars distalis, dan pars intermediaHipofisa terletak pada bagian bawah otak dan menghasilkan hormon GnRH, ACTH, TSH,FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin, Vasopresin, dan Oksitosin. Secara umum, hormon tersebut berfungsi mengatur pertumbuhan, perkembangan, metabolisme, reproduksi,tingkah laku, dan homeostatis. Menurut Susanto, (2001) metode hipofisasi adalah usahauntuk memproduksi benih dengan menggunakan bantuan kelenjar hipofisa dari ikan donor yang menghasilkan hormon yang merangsang pemijahan seperti gonadotropin.
    Praktikum ini diawali dengan cara menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Setelah itu disiapkan ikan donor. Ikan donor merupakan ikan yang nantinya diambil kelenjar hipofisanya dan didonorkan pada ikan resipien. Sedangkan ikan resipien merupakan ikan yang nantinya akan menerima suntikan hipofisa dari ikan donor.Pada praktikum ini menggunakan ikan mas (Cyprinus carpio) sebagai ikan donor. Ikan donor diambil ikan yang berjenis kelamin jantan dengan berat 0,5 kg.
    Ikan mas merupakan ikan donor universal artinya dapat digunakan secara efektif pada berbagai jenis ikan baik dalam satu famili maupun tidak satu famili.Ikan donor adalah ikan yang sengaja dikorbankan sebagai sumber gonadotropin.Hormon tersebut dihasilkan dan sengaja disimpan di kelenjar hipofisa yang terletak ditengkorak kepala di bawah otak dan berwarna putih. Kelenjar hipofisa tumbuh seiring dengan perkembangan kedewasaan ikan. Semakin besar ukuran tubuh ikan dan semakindewasa ikan maka semakin besar dan berat pula hipofisa ikan tersebut. Kelenjar hipofisa tersebut tidak dapat diidentifikasi pada ikan muda. Kelenjar hipofisa tampak jelas setelah ikan memasuki perkembangan kedewasaan. Jumlah hormon gonadotropin yang dihasilkan berfluktusi sesuai dengan tingkat kematangan gonad dan periodisasi pemijahan. Kualitas hormon gonadotropin akan turun drastis pada induk ikan yang baru saja memijah dan meningkat drastis pada induk ikan yang siap berpijah (Sugiharto, 1986).Berdasarkan perkembangan kelenjar hipofisa dan fluktuasi hormon tersebut, makasyarat ikan donor yang dipersiapkan adalah ikan mas yang telah dewasa dan matang gonad diutamakan berjenis kelamin jantan karena lebih cepat dewasa dan periodisasipemijahannya cukup pendek sehingga kualitas hormon cukup stabil setiap saat. Ikan donorsebaiknya sejenis dengan ikan resipien, sehingga dapat meminimalkan kemungkinanketidak cocokan antara hormonnya. Ukuran ikan donor harus lebih besar dari pada ikanresipien dengan perbandingan berat 2:1 atau sama 1:1.
    Ikan donor yang baik dapat ditangkap dari perairan alam maupun dari kolam pemeliharaan yang dikelola secara intensif, asalkan umurnya tidak kurang dari 1 tahun. Ikan donor yang diambil dari kolam pemelihara memiliki kelebihan karena dapat diketahui secara pasti umur ikan tersebut dan dapat dipilih ikan yang berkualitas baik. Ikan donor harus dalam kondisi sehat, tidak ada luka fisik atau cacat karena dapat menimbulkan infeksi dan penularan bibit penyakit (Sugiharto,1986).
    Persyaratan bagi ikan resipien atau ikan penerima hipofisa dari ikan lain adalah berasal dari induk jantan dan betina yang matang kelamin dan siap untuk dipijahkan. Induk resipien merupakan hasil ikan budidaya dan domestikasi. Memiliki badan sehat dan tidak cacat.(Sugiharto, 1986).
    Pengambilan hipofisa dilakukan dengan cara memasukkan jari ke dalam mulut ikan agar tidak bergerak kemudian memotong bagian kepalanya. Pemotongan ini dilakukan saat ikan masih hidup agar diperoleh kelenjar hipofisa yang segar. Pemotongan kepala inidilakukan pada bagian belakang operculum. Setelah kepala terlepas dari badan ikan, mulutikan dihadapkan ke atas dan mulai dipotong pada bagian nostril dengan arah tegak lurus kebawah (pada bagian di atas mata sedikit agak ke arah bagian belakang). Pemotongandengan arah tersebut untuk memudahkan saat kelenjar hipofisa sudah mulai terlihat. Setelah tulang tengkorak terbuka, terlihat otak yang dibawahnya terdapat kelenjar hipofisaberwarna putih dengan ukuran kecil. Otak diambil dengan menggunakan tusuk gigi atau piset yang yang berujung tumpul agar jika tidak sengaja terkena kelenjar hipofisa makakelenjar tersebut tidak pecah atau hancur. Kemudian rongga otak dibersihkan dengan menggunakan tissu supaya kelenjar hipofisanya dapat terlihat. Setelah kelenjar hipofisaterlihat, diambil dengan menggunakan pinset dan diletakkan di dalam cawan dan dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam mortar untuk digerus.
    Pengambilan kelenjar yang digunakan untuk memicu proses pemijahan ini dilakukan pada kelenjar hipofisa karena hipofisa bersifat sangat vital pada kehidupan kelangsungan ikan. Hipofisa dapat dihasilkan berbagai hormon yang memicu terhadap sex reversalikan seperti hormon somatotropin berfungsi untuk hormone pertumbuhan badan.Kemudian prolactin yang berperan untuk mengatur kegiatan hormon-hormon sex danterakhir adalah hormon gonadotropin untuk merangsang terjadinya perubahan untuk memijah pada saat ikan siap memijah dan sudah matang kelamin (Gordon, 1982).Penggerusan ini dilakukan agar hipofisa halus serta untuk memperkecil dan memperhalus ukuran kelenjar hipofisa sehingga mudah apabila akan diinjeksikan padaikan yang siap kawin. Saat penggerusan ditambahkan aquabidest sebanyak 2 ml. Penambahan aquabidest ini digunakan sebagai larutan fisiologis sehingga bentuk sel darikelenjar hipofisa tersebut tidak rusak selain itu juga sebagai pelarut dan pengencer. Kemudian larutan kelenjar hipofisa dimasukkan ke dalam tabung reaksi menggunakan pipet tetes atau spuit supaya memudahkan pemindahan larutan hipofisa kemudian disentrifugeselama 5 menit dengan kecepatan 2500 rpm. Perlakuan ini bertujuan untuk memisahkan antara endapan dan supernatan. Setelah terpisah, larutan bening atau supernatannyadiambil dengan menggunakan spet (jarum suntik) dan disuntikkan ke dalam tubuh induk resipien.
    Menurut Sumantadinata (1981), penyuntikkan ini dilakukan pada bawah sirippunggung bagian depan merupakan area yang dekat dengan otak yang merupakan areapenerima rangsang (hipotalamus) yang juga disebut sebagai master of glands yaitu pengatur semua kelenjar. Selain itu pnyuntikkan dan tidak boleh menyuntikkan padabagian sisik karena sisik dapat terlepas dan menyebabkan ikan tersebut stres. Cara penyuntikkan dilakukan dengan cara mengangkat sedikit sisik kemudian dimasukk jarum suntik sampai menembus dagingnya. Kemudian ikan recipien ini diletakkan didalam aquarium.
    Mekanisme pemijahan dimulai dari ekstrak kelenjar hipofisa yang disuntikkan akan menimbulkan rangsangan pada hipotalamus. Rangsangan dibawa akson yang berakhir padapenonjolan tengah di dasar ventral ketiga hipotalamus. Hormon FSH dan LH bekerja merangsang perkembangan gonad dan merangsang ovulasi. FSH dan LH juga merangsang perkembangan fungsi testis. FSH meningkatkan ukuran saluran semini ferus dan LHmerangsang sel intestinum dari testis untuk memproduksi hormon kelamin jantanPembuahan ikan dilakukan di luar tubuh. Masing-masing ikan jantan dan betinamengeluarkan sperma dan ovum. Keduanya dapat dipicu dengan menggunakan teknik hipofisasi. Keberhasilan ovulasi tergantung dari keberhasilan proses pematangan akhiroosit. Oosit yang telah siap diovulasikan akan terjadi jika telah mendapat rangsanganhormon yang sesuai. Rendahnya hormon gonadotropin yang masuk dalam darah dapatmenyebabkan kemampuan hormon gonadotropin untuk mengovulasikan telur sangatterbatas (Sutisna, 2005).Kelebihan dari metode pemijahan dengan penyuntikkan hormon hipofisa adalahhormon ini dapat disimpan dalam waktu lama sampai dua tahun.

    Penggunaan hormone ini juga relative mudah (hanya membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak membutuhkan refrigenerator dalam penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar berat tubuh donordan resepien, adanya kemungkinan terdapat hormon hormon lain yang memiliki sifatsinergik. Kekurangan dari metode pemijahan dengan penyuntikkan hormon hipofisa adalahadanya kemungkinan terjadi reaksi imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jika donor hipofisa berasal dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya hormon hormon lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan pengaruh hormon gonadotropin (Bachtiar, 2002).

    Gambar Tahapan Proses Hipofisasi

    BAB V
    KESIMPULAN

    5.1 Kesimpulan
    Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
    a. Dalam PengambIlan kelenjar Hipofisa harus dilakukan dengan hati-hati karena hipofisa sangat mudah pecah.
    b. Proses pemijahan dapat dipercepat dengan striping dan penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa atau yang sering disebut dengan metode hipofisasi.
    c. Striping dapat dilakukan dengan carapemijatan pada bagian perut ikan sedangkan hipofisasi dengan cara pengambilan kelenjarhipofisa dari ikan donor yang disuntikkan dalam tubuh ikan resipient.
    d. Kelenjar hipofisamenghasilkan hormone gonadotropin, ACTH, TSH, FSH, LH, STH, MSH, Prolaktin,Vasopresin, dan Oksitosin yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, perkembangan,metabolisme, reproduksi.
    e. Persyaratan bagi ikan donor yang digunakan harus dalm keadaandewasa dan matang gonad, memiliki berat badan dua kali lipat dari ikan resipien,diutamakan berjenis kelamin jantan, dalam kondisi sehat dan tidak terkena infeksi, danberasal dari species yang sejenis agar tidak terjadi penolakan sdalam tubuh ikan resipien.Persyaratan bagi ikan recipient yaitu dewasa dan matang gonad, siap untuk dipijahkan,berat badan yang dimiliki harus setengahnya dari berat badan ikan donor, merupakan hasilikan budidaya dan domestikasi dan memiliki badan sehat dan tidak cacat. Keberhasilanovulasi tergantung dari keberhasilan proses pematangan akhir oosit.

    5.2 Saran
    a. Ikan donor harus berukuran relative besar untuk memudahkan dalam menemukan hipofisa karena ikan yang berukuran besarpun agak sulit mencari hipofisanya.
    b. Untuk selanjutnya agar melakukan kegiatan dengan hati-hati teliti dan cermat.

    DAFTAR PUSTAKA

    Afrianto, I. dan Liviawati, E. 1998. “Beberapa Metode Budidaya Ikan”. Yogyakarta :Kanisesis (Anggota IKAPI).
    Bachtiar, Y. 2002. “Pembesaran Ikan Mas di Kolam Perkarangan”. Agromedia Pustaka :Jakarta. Hadjamulia.
    A. 1970. “Pengamatan Budidaya Ikan Merangsang Pemijahan Hormon Hypofisa”. Kontribusi Lembaga Penelitian Perikanan Darat No.19 : Bogor.
    Gordon, M.S. 1982.“Animal Physiology Principle”. Mc Millan Publishing Company:NewYork.
    Hoar , W. S. 1957. “The Endocryne Organs”. Academic Press : New York.
    MacLatchy, et al. 2011. “Fundulus Heteroclitus: Ovarian Reproductive Physiology And The Impact Of Environmental Contaminants”. Comparative Biochemistry and Physiology, Part C 154 (2011) 278
    – .287.Prihatman, Kemal. 2000.“Budidaya Ikan Mas”. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas. JakartaSugiarto. 1986. Teknik Pembenihan Ikan. CV. Simplex, Jakarta.
    Sumantadinata, K.1981. “Perkembangbiakan Ikan–Ikan Pelihara Indonesia”. Fakultas Perikanan : Bogor.
    Susanto, H. 2001. “Teknik Kawin Suntik Ikan Ekonomis”. Penebar Swadaya : Jakarta.
    Sutisna, D. H. 2005. “Pembenihan Ikan Air Tawar”. Kanisius : Yogyakarta.
    Zairin M. 2002. Sex Reversal Memproduksi Benih Ikan Jantan dan Betina. PenebarSwadaya, Jakarta.